Unconditional Love
October 24th, 2008Pada 23 Oktober 2008 16:12, mimi ancilla <mimi_ancilla@ yahoo.com> menulis:
>
Lima tahun usia pernikahanku dengan Ellen sungguh masa yang sulit.
>
> Semakin hari semakin tidak ada kecocokan diantara kami. Kami
>
> bertengkar karena hal-hal kecil. Karena Ellen lambat membukakan
>
> pagar saat aku pulang kantor. Karena meja sudut di ruang keluarga
>
> yang ia beli tanpa membicarakannya denganku, bagiku itu hanya
>
> membuang uang saja.![]()
>
>
>
> Hari ini, 27 Agustus adalah ulang tahun Ellen. Kami bertengkar
>
> pagi ini karena Ellen kesiangan membangunkanku. Aku kesal dan tak
>
> mengucapkan selamat ulang tahun padanya, kecupan di keningnya yang
>
> biasa kulakukan di hari ulang tahunnya tak mau kulakukan. Malam
>
> sekitar pukul 7, Ellen sudah 3 kali menghubungiku untuk memintaku
>
> segera pulang dan makan malam bersamanya, tentu saja permintaannya
>
> tidak kuhiraukan.
>
>
>
> Jam menunjukkan pukul 10 malam, aku merapikan meja kerjaku dan
>
> beranjak pulang. Hujan turun sangat deras, sudah larut malam tapi
>
> jalan di tengah kota Jakarta masih saja macet, aku benar-benar
>
> dibuat kesal oleh keadaan. Membayangkan pulang dan bertemu dengan
>
> Ellen membuatku semakin kesal! Akhirnya aku sampai juga di rumah
>
> pukul 12 malam, dua jam perjalanan kutempuh yang biasanya aku
>
> hanya membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai di rumah.
>
>
>
> Kulihat Ellen tertidur di sofa ruang keluarga. Sempat aku berhenti
>
> di hadapannya dan memandang wajahnya. “Ia sungguh cantik” kataku
>
> dalam hati, “Wanita yang menjalin hubungan denganku selama 7 tahun
>
> sejak duduk di bangku SMA yang kini telah kunikahi selama 5 tahun,
>
> tetap saja cantik”. Aku menghela nafas dan meninggalkannya pergi,
>
> aku ingat kalau aku sedang kesal sekali dengannya.
>
>
>
> Aku langsung masuk ke kamar. Di meja rias istriku kulihat buku
>
> itu, buku coklat tebal yang dimiliki oleh istriku. Bertahun-tahun
>
> Ellen menulis cerita hidupnya pada buku coklat itu. Sejak sebelum
>
> menikah, tak pernah ia ijinkan aku membukanya. Inilah saatnya! Aku
>
> tak mempedulikan Ellen, kuraih buku coklat itu dan kubuka halaman
>
> demi halaman secara acak.
>
>
>
> 14 Februari 1996. Terima kasih Tuhan atas pemberianMu yang berarti
>
> bagiku, Vincent, pacar pertamaku yang akan menjadi pacar
>
> terakhirku.
>
>
>
> Hmm. aku tersenyum, Ellen yakin sekali kalau aku yang akan menjadi
>
> suaminya.
>
>
>
> 6 September 2001, Tak sengaja kulihat Vincent makan malam dengan
>
> wanita lain sambil tertawa mesra. Tuhan, aku mohon agar Vincent
>
> tidak p indah ke lain hati.
>
>
>
> Jantungku serasa mau berhenti…
>
>
>
> 23 Oktober 2001, Aku menemukan surat ucapan terima kasih untuk
>
> Vincent, atas candle light dinner di hari ulang tahun seorang
>
> wanita dengan nama Melly. Siapakah dia Tuhan? Bukakanlah mataku
>
> untuk apa yang Kau kehendaki agar aku ketahui.
>
>
>
> Jantungku benar-benar mau berhenti. Melly, wanita yang sempat
>
> dekat denganku disaat usia hubunganku dengan Ellen telah mencapai
>
> 5 tahun. Melly, yang karenanya aku hampir saja mau memutuskan
>
> hubunganku dengan Ellen karena kejenuhanku. Aku telah memutuskan
>
> untuk tidak bertemu dengan Melly lagi setelah dekat dengannya
>
> selama 4 bulan, dan memutuskan untuk tetap setia kepada Ellen. Aku
>
> sungguh tak menduga kalau Ellen mengetahui hubunganku dengan
>
> Melly.
>
>
>
> 4 Januari 2002, Aku dihampiri wanita bernama Melly, Ia menghinaku
>
> dan mengatakan Vincent telah selingkuh dengannya. Tuhan, beri aku
>
> kekuatan yang berasal daripadaMu.
>
>
>
> Bagaimana mungkin Ellen sekuat itu, ia tak pernah mengatakan
>
> apapun atau menangis di hadapanku setelah mengetahui aku telah
>
> menghianatinya. Aku tahu Melly, dia pasti telah membuat hati Ellen
>
> sangat terluka dengan kata-kata tajam yang keluar dari mulutnya.
>
> Nafasku sesak, tak mampu kubayangkan apa yang Ellen rasakan saat
>
> itu.
>
>
>
> 14 Februari 2002, Vincent melamarku di hari jadi kami yang ke-6.
>
> Tuhan
>
> apa yang harus kulakukan? Berikan aku tanda untuk keputusan yang
>
> harus
>
> kuambil.
>
>
>
> 14 Februari 2003, Hari minggu yang luar biasa, aku telah menjadi
>
> Nyonya Alexander Vincent Winoto. Terima kasih Tuhan!
>
>
>
> 18 Juli 2005, Pertengkaran pertama kami sebagai keluarga. Aku
>
> harap aku tak kemanisan lagi membuatkan teh untuknya. Tuhan, bantu
>
> aku agar lebih berhati-hati membuatkan teh untuk suamiku.
>
>
>
> 7 April 2006, Vincent marah padaku, aku tertidur pulas saat ia
>
> pulang kantor sehingga ia menunggu di depan rumah agak lama.
>
> Seharian aku berada mall mencari jam idaman Vincent, aku ingin
>
> membelikan jam itu di hari ulang tahunnya yang tinggal 2 hari
>
> lagi. Tuhan, beri kedamaian di hati Vincent agar ia tidak marah
>
> lagi padaku, aku tak akan tidur di
>
> sore hari lagi kalau Vincent belum pulang walaupun aku lelah.
>
>
>
> Aku mulai menangis, Ellen mencoba membahagiakanku tapi aku malah
>
> memarahinya tanpa mau mendengarkan penjelasannya. Jam itu adalah
>
> jam kesayanganku yang kupakai sampai hari ini, tak kusadari ia
>
> membelikannya dengan susah payah.
>
>
>
> 15 November 2007, Vincent butuh meja untuk menaruh kopi di ruang
>
> keluarga, dia sangat suka membaca di sudut ruang itu. Tuhan, bantu
>
> aku menabung agar aku dapat membelikan sebuah meja, hadiah Natal
>
> untuk Vincent.
>
>
>
> Aku tak dapat lagi menahan tangisanku, Ellen tak pernah mengatakan
>
> meja itu adalah hadiah Natal untukku. Ya, ia memang membelinya di
>
> malam Natal dan menaruhnya hari itu juga di ruang keluarga.
>
>
>
> Aku sudah tak sanggup lagi membuka halaman berikutnya. Ellen
>
> sungguh diberi kekuatan dari Tuhan untuk mencintaiku tanpa syarat.
>
> Aku berlari keluar kamar, kukecup kening Ellen dan ia terbangun.
>
> “Maafkan aku Ellen, Aku mencintaimu, Selamat ulang tahun.” (ts)
>
>
>
> ———— ——— ——-
>
>
>
> Jika manusia bisa mencintai pasangannya tanpa syarat. Bayangkan,
>
> bagaimana besarnya cinta Tuhan kepada kita yang adalah ciptaanNya.
>
> anakNya. sahabatNya. saudaraNya. sehingga Ia memberikan AnakNya
>
> yang kekasih untuk mati di kayu salib bagi kita.
>
>
>
> Have a blessed day!
>
>
>
>
>
> Yoh 3:16 “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga
>
> Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang
>
> yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang
>
> kekal”
>
>
> cheers & regards,
>
>
> -M.i.M.i-
>
>
__._,_.___